Tampilkan postingan dengan label novel ahmad thohari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label novel ahmad thohari. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Maret 2010

novel ronggeng dukuh paruk buku 1

Ronggeng Dukuh Paruk
Bagian Pertama

Sepasang burung bangau melayang meniti angin berputar-putar tinggi di langit. Tanpa sekali pun
mengepak sayap, mereka mengapung berjam-jam lamanya. Suaranya melengking seperti keluhan panjang.
Air. Kedua unggas itu telah melayang beratus-ratus kilometer mencari genangan air. Telah lama mereka
merindukan amparan lumpur tempat mereka mencari mangsa; katak, ikan, udang atau serangga air
lainnya.

Namun kemarau belum usai. Ribuan hektar sawah yang mengelilingi Dukuh Paruk telah tujuh bulan
kerontang. Sepasang burung bangau itu takkan menemukan genangan air meski hanya selebar telapak
kaki. Sawah berubah menjadi padang kering berwarna kelabu. Segala jenis rumput, mati. Yang menjadi
bercak-bercak hijau di sana-sini adalah kerokot, sajian alam bagi berbagai jenis belalang dan jangkrik.
Tumbuhan jenis kaktus ini justru hanya muncul di sawah sewaktu kemarau berjaya.

Di bagian langit lain, seekor burung pipit sedang berusaha mempertahankan nyawanya. Dia terbang bagai
batu lepas dari katapel sambil menjerit sejadi-jadinya. Di belakangnya, seekor alap-alap mengejar dengan
kecepatan berlebih. Udara yang ditempuh kedua binatang ini membuat suara desau. Jerit pipit kecil itu
terdengar ketika paruh alap-alap menggigit kepalanya. Bulu-bulu halus beterbangan. Pembunuhan terjadi
di udara yang lengang, di atas Dukuh Paruk.